Hadis hasan adalah salah satu kategori hadis yang diterima dalam kajian ilmu hadis. Hadis ini memiliki kedudukan di bawah hadis shahih, tetapi tetap termasuk hadis yang dapat dijadikan dasar dalam pembahasan keagamaan menurut banyak ulama.
Pengertian Hadis Hasan
Secara umum, hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang dapat diterima, serta tidak memiliki syadz dan illat yang merusak keabsahannya.
Perbedaan utama antara hadis hasan dan hadis shahih terletak pada tingkat ketelitian perawi. Perawi hadis hasan memiliki sifat adil, tetapi tingkat ketelitian hafalan atau catatannya berada di bawah perawi hadis shahih.
Ciri-ciri hadis hasan
Berdasarkan penjelasan para ahli hadis, hadis hasan memiliki beberapa karakteristik:
- Sanadnya bersambung dan setiap perawi menerima riwayat dari perawi sebelumnya.
- Tidak terdapat perawi yang tertuduh berdusta dalam sanadnya.
- Tidak mengandung syadz, yaitu tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat.
- Tidak memiliki illat yang dapat memengaruhi penilaian hadis.
- Diriwayatkan melalui lebih dari satu jalur menurut sebagian penjelasan ulama mengenai definisi hadis hasan.
الْحَدِيْثُ الْحَسَنُ هُوَ مَا عُرِفَ مَخْرَجُهُ وَاشْتَهَرَ رِجَالُهُ
Kedudukan hadis hasan
Dalam pembagian hadis, hadis hasan berada di bawah hadis shahih dari sisi kekuatan periwayatan. Meskipun demikian, hadis hasan termasuk hadis yang diterima (maqbul) dan digunakan oleh banyak ulama dalam berbagai pembahasan ilmu Islam.
Para ahli hadis membahas hadis hasan dengan berbagai pendekatan, terutama berkaitan dengan kualitas perawi dan kekuatan jalur periwayatannya.
Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil dengan tingkat ketelitian yang lebih rendah daripada perawi hadis shahih, serta terbebas dari syadz dan illat.
Ibn Hajar al-Asqalani, Nukhbat al-Fikar